ronisafaat Seorang penulis blog, professional photographer dan bussines co-founder. Berkeinginan untuk menjadi bagian dari perkembangan manusia untuk manusia. Keep connected..!!

Isi Perjanjian Linggarjati

3 min read

Isi Perjanjian Linggarjati

Perjanjian linggarjati adalah perundingan yang terjadi antara pihak Indonesia dan Belanda yang ditengahi oleh Inggris. Hasil perundingan linggarjati yang terjadi di awal-awal masa kemerdekaan tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan yang kemudian diberi nama “Perjanjian Linggarjati”.

Linggajati sendiri merupakan nama sebuah desa yang secara geografis berada di antara Cirebon dan Kuningan dan terletak di kaki gunung Ciremai. Pemilihan Linggarjati sebagai tempat perundingan dikarenakan tempat ini netral bagi kedua belah pihak yang akan melakukan perundingan. Diketahui, pada saat itu Belanda dan sekutu menguasai Jakarta, sedangkan Indonesia sendiri menguasai Yogyakarta. Tempat jalannya perundingan masih ada hingga saat ini dan dijadikan museum yang dinamai “Museum Linggarjati”.

Perundingan Linggarjati dilaksanakan pada:

Perundingan atau perjanjian Linggarjati dilakukan pada tanggal 11-13 November 1946, namun delegasi telah sampai di Linggarjati pada tanggal 10 November (sehari sebelumnya). Kemudian, hasil perundingan diparaf 15 November 1946 di Jakarta dan diratifikasi pada 25 Maret 1947 di Istana negara.

Setelah Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara yang sudah Merdeka pada 17 Agustus 1945 dan terlepas dari jajahan Jepang. Belanda yang sebelumnya telah menjajajah Indonesia selama 350 tahun ingin kembali menjajah Indonesia. Pada  awal 29 September 1945 pasukan sekutu dan AFNEI datang ke Indonesia (salah satunya) untuk melucuti tentara Jepang setelah kekalahannya negara tersebut di perang dunia ke II.

Namun kedatangan mereka ternyata tidak hanya berdua saja, namun diboncengi oleh NICA (Netherlands-Indies Civil Administration). Hal tersebut menimbulkan kecurigaan pemerintah dan rakyat Indonesia, mereka menilai Belanda ingin kembali mencoba berkuasa di Indonesia. hingga akhirnya pertempuran itu pun terjadi, seperti di pertempuran 10 November di Surabaya, Pertempuran di Ambarawa, Medan area, Pertempuran Merah putih di Manado dll. Karena sering terjadi pertempuran-pertempuran yang sangat merugikan kedua belah pihak dan beberapa alasan lainnya.

Maka pihak kerajaan Belanda dan Indonesia pun sepakat untuk melakukan kontak diplomasi pertama dalam sejarah kedua negara tersebut. Latar belakang terjadinya perjanjian Linggarjati adalah karena banyaknya konflik dan insiden pertempuran antara pejuang Indonesia dan pasukan Sekutu-Belanda. Sehingga kedua belah pihak menginginkan berakhirnya konflik dan selesainya persengketaan wilayah kekuasaan serta kedaulatan Republik Indonesia dan merdeka.

Jalannya Perundingan Linggarjati

Sebelum perundingan Linggarjati, terdapat beberapa perundingan- perundingan lain yang mengalami kegagalan seperti dalam pertemuan di Hooge Veluwe dan perundingan 7 Oktober. Untuk melanjutkan serangkaian perundingan tersebut. M aka dipilihlah salah satu rumah milik warga Belanda di Linggarjati sebagai tempat dilangsungkannya pertemuan. Pertemuan ini dihadiri oleh beberapa juru runding dari Indonesia, Belanda dan Inggris pada tanggal 10 November 1946.

Tokoh- Tokoh Perjanjian Linggarjati

Delegasi yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang mewakili Indonesia, Belanda dan Inggris sebagai penengah diantaranya.

  • Inggris yang menjadi pihak penengah diwakili oleh Lord Killearn.
  • Kemudian Indonesia diwakili oleh Sutan Syahrir (Ketua) Muhammad Roem, Dr.A.K Gani dan Mr. Susanto Tirtoprojo, S.H
  • Belanda diwakili oleh Prof. Schermerhorn (Ketua), Van Pool dan De Boer.

Terdapat juga beberapa saksi atau tamu yang hadir dalam pertemuan tersebut seperti, Amir Syarifudin, dr. Leimena, dr. Sudarsono, Ali Budiharjo, Presiden Sukarno dan Hatta. Perjanjian Linggarjati kemudian ditandatangani dalam suatu upacara kenegaraan di Istana Negara Jakarata pada tanggal 25 Maret 1947.

Isi Perjanjian Linggarjati

Isi Perjanjian Linggarjati

Perundingan linggarjati telah menghasilkan keputusan yang kemudian disebut perjanjian linggarjati yang memiliki 17 Pasal, dari 17 pasal tersebut terdapat 3 pasal pokok, diantaranya adalah:

1. Belanda mengakui Republik Indonesia secara de facto dengan wilayah kekuasan meliputi Sumatera, Jawa, Madura dan Belanda akan meninggalkan Indonesia selambat-lambatnya 1 Januari 1949

2. Telah menyepakati pembentukan negara serikat dengan nama Negara Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri dari RI, Kalimantan dan Timur besar sebelum 1 Januari 1949.

3. RIS dan Belanda rencananya  akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan ratu Belanda sebagai ketua.

Dampak Perjanjian Linggarjati

Perjanjian linggarjati memberikan dampak positif dan negatif bagi Negara Indonesia. berikut diantara dampak atau efek dari perjanjian tersebut.

Dampak Positif Perjanjian Linggarjati :

  1. Citra Indonesia di mata dunia Internasional semakin kuat, dengan pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia, mendorong negara-negara lain untuk mengakui kemerdekaan Republik Indonesia secara sah.
  2. Belanda mengakui negara Republik Indonesia yang memiliki kuasa atas Jawa, Madura dan juga Sumatera. Dengan demikian secara de facto Indonesia berkuasa atas wilayah tersebut.
  3. Selesainya konflik sementara  antara Belanda dan Indonesia (walaupun setelahnya Belanda melanggar perjanjian). Pada saat itu dikhawatirkan apabila konfrontasi rakyat Indonesia dan kekuatan Belanda terus berlanjut. Maka akan semakin banyak korban jiwa dari kalangan rakyat. Hal ini tentu saja dikarenakan kekuatan militer Belanda yang canggih dan kekuatan rakyat Indonesia yang apa adanya.

Dampak Negatif Perjanjian Linggarjati

  1. Indonesia hanya memiliki wilayah kekuasaan yang sangat kecil, yakni pulau Jawa, Sumatera dan Madura saja. Selain itu Indonesia harus mengikuti juga persemakmuran Indo-Belanda.
  2. Memberikan waktu Belanda membangun kekuatan atau “menghela nafas”yang selanjutnya melakukan agresi militernya.
  3. Perjanjian ini juga ditentang dari dalam negara Indonesia karena tidak sesuai. Masyarakat dan kalangan tertentu yang dimulai dari Partai Masyumi, PNI, Partai Rakyat Indonesia dan Partai Rakyat Jelata.
  4. Dalam perundingan tersebut diketahui bahwa pemimpin yang ditunjuk yaitu Sutan Syahrir telah dianggap memberikan dukungan kepada pihak Belanda. Sehingga membuat para anggota dari Partai Sosialis yang berada dalam Kabinet tersebut dan KNIP mengambil langkah penarikan dukungan kepada pemimpin perundingan tersebut yang sudah diadakan. Penarikan dukungan terjadi kepada Syahrir pada tanggal 26 Juni 1947.

Dalam pelaksanaannya, perjanjian ini tidak berjalan baik. Pada tanggal 20 Juli 1947 Gubernur Jendral H. J. Van Mook memutuskan perjanjian secara sepihak. H. J Van Mook mendeklarasikan bahwa Belanda tidak terkait dengan perjajian tersebut.

Hal ini berlaku sejak tanggal 21 Juni 1947, sebelum satu tahun perjanjian linggarjat genap dibuat. Terjadilah adanya Agresi Militer Belanda 1. Hal ini terjadi akibat adanya perbedaan penafsiran yang terjadi antara pihak Indonesia dan Belanda.

Berikut adalah beberapa kejadian yang bersangkut paut dengan peristiwa ini, dikutip dari berbagai sumber:

  1. Perundingan untuk menyelesaikan konflik Belanda-Indonesia sebetulnya telah dilakukan dari bulan Februari 1946, namun hasilnya selalu gagal tanpa kesepakatan. Sebelum akhirnya pada bulan Oktober di tahun tersebut kemudian terjadi sebuah kesepakatan yang mengawali cikal bakal pertemuan di Linggarjati.
  2. Pemilihan Linggarjati sebagai tempat pertemuan di usulkan oleh Maria Ulfah Santoso, menteri sosial di masa tersebut. Pemilihan lokasi didasarkan pada titik tengah antara Belanda yang menguasai Jakarta dan Pemerintah RI yang saat itu menjadikan Yogya sebagai pusat pemerintahan sementara.
  3. Saat itu delegasi Belanda menginap di kapal perang milik mereka. Delegasi Indonesia menginap di Linggasama yang letaknya berdekatan dengan desa Linggarjati. sementara Ir Soekarno dan Mohammad Hatta singgah di rumah Bupati Kuningan.
  4. Rumah besar yang dijadikan tempat pertemuan adalah tempat milik Kulve van Os, seorang Belanda pemilik pabrik semenn dan perajin ubin yang menikahi perempuan berdarah Indonesia.
  5. Perundingan berjalan alot, ada beberapa poin yang kedua belah pihak dapat sepakati. Namun beberapa poin lain belum dicapai kesepakatan. Disela pertemuan, delegasi Belanda pun sempat menemui Soekarno yang datang sebagai tamu untuk membicarakan beberapa poin yang menjadi perdebatan antara Belanda dengan Indonesia yang diketuai Syahrir.
  6. Pro-kontra terjadi selepas perjanjian tersebut dipublikasikan. utamanya penolakan disuarakan oleh opisisi pemerintah saat itu.
  7. Belanda menodai perjanjian dan membatalkan kesepakatan dengan sepihak.
ronisafaat Seorang penulis blog, professional photographer dan bussines co-founder. Berkeinginan untuk menjadi bagian dari perkembangan manusia untuk manusia. Keep connected..!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *