ronisafaat Seorang penulis blog, professional photographer dan bussines co-founder. Berkeinginan untuk menjadi bagian dari perkembangan manusia untuk manusia. Keep connected..!!

Pengertian Fungsi dan Prinsip Bank Syariah

6 min read

√ 6+ Pengertian Fungsi dan Prinsip Bank Syariah : HALAL???

Siapa yang tidak mengenal perusahaan bank? Di era modern sudah maju seperti sekarang ini sekarang sudah ada bank yang menurut syariat islam, sering disebut dengan bank syariah. Mau tau banyak tentang bank ini? Yuk simak terus artikel ini yaaa guys.

Bank Syariah merupakan suatu lembaga perbankan yang dijalankan dengan prinsip syariah. Dalam setiap aktivitas usaha bank syariah selalu menggunakan hukum-hukum islam yang tercantum di dalam Al-Quran dan Hadist.

Suatu hal yang membedakan dengan bank konvensional yang mengandalkan sistem bunga, bank syariah lebih mengutamakan sistem bagi hasil, sistem sewa, dan sistem jual beli yang tidak menggunakan sistem riba sama sekali.

Bank syariah juga berpotensi untuk menjadi perusahaan-perusahaan terbesar di Indonesa dan juga telah menyediakan pelayanan administrasi yang memadai.

√ 6+ Pengertian Fungsi dan Prinsip Bank Syariah : HALAL???

Adapun fungsi bank syariah adalah sebagai berikut:

1. Penghimpun Dana

     Sama seperti halnya dengan bank umum, bank syariah memiliki fungsi utama yaitu penghimpun dana dari masyarakat. Bedanya, jika pedabank konvensional si penabung mendapat balas jasa berupa bunga, di bank syariah penabung akan mendapatkan balas jasa berupa bagi hasil.

2. Penyalur Dana

     Fungsi utama bank syariah yang kedua yaitu sebagai lembaga penyalur dana. Dana yang telah dihimpun dari nasabah, nantinya akan disalurkan kembali kepada nasabah lainya dengan sistem bagi hasil.

3. Memberikan Pelayanan Jasa Bank

     Fungsi bank syariah yang ketiga yaitu sebagai pemberi layanan jasa perbankan. Bank syariah berfungsi sebagai pemberi layanan jasa seperti jasa tranfer,pemindah bukuan, jasa tarik tunai, dan jasa perbankan lainnya.

Sejarah Singkat Berdirinya Bank Syariah

Pada awalnya, pemerintah Indonesia berencana menerapkan sistem bagi hasil dalam perkreditan yang merupakan konsep dari perbankan syariah. Setelah 5 tahun kemudian, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan deregulasi perbankan 1988 (pakto 88) yang membuka kesempatan seluas-luasnya untuk bisnis perbankan dalam menunjang pembangunan.

Peran Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Namun lebih banyak bank konvensional yang berdiri. Tapi kemudian beberapa usaha perbankan yang bersifat daerah yang berasaskan syariah juga mulai bermunculan. Majelis ulama Indonesia (MUI) pada 1990 membentuk kelompok kerja untuk mendidikan Bank Islam di Indonesia. Kemudian pada tanggal 18 – 20 Agustus 1990, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan lokakarya bunga bank dan perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Hasil lokakarya tersebut kemudian dibahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV MUI di Jakarta 22 – 25 Agustus 1990, yang menghasilkan amanat bagi pembentuk  kelompok kerja pendirian bank Islam di Indonesia. Kolompok kerja dimaksud disebut Tim Perbankan MUI dengan diberi tugas untuk melakukan pendekatan dan konsultasi dengan semua pihak yang terkait.

Sebagai hasil kerja tim perbankan MUI tersebut adalah berdirilah bank syariah pertama di indonesia yaitu PT Bank muamalat Indonesia (BMI), yang sesuai akte pendirinya berdiri pada tanggal 01 November 1991. Sejak tanggal 1 mei 1992, BMI resmi beroperasi dengan modal awal perusahaan sebesar Rp  106.126.382.000,-.

Undang-Undang Bank Syariat di Indonesia

Pada awal masa operasinya, keberadaan bank syariah belum mendapatkan perhatian orang yang optimal dalam tatanan sektor perbankan nasional. Landasan hukum operasi bank yang menggunakan sistem syariah, saat itu hanya diakomodir dalam salah satu ayat Undang-undang tentang “bank dengan sistem bagi hasil” pada UU no 7 tahun 1992. Tanpa rinci landasan hukum syariah serta jenis jenis usaha yang diperbolehkan pada tahun 1998.

Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat melaukan penyempurnaan UU no 7 tahun 1992 tersebut  menjadi UU no 10 tahun 1998, yang secara tegas menjelaskan bahwaterdapat dua sistem dalam perbankan di tanah air (dual banking syestem), yaitu perbankan konfersional dan sistem perbankan syariah.

Peluang ini disambut hangat oleh masyarakat perbankan, yang ditandai dengan berdirinya beberapa bebrapa bank islam lain, yakni Bank IFI, Bank Syariah Mandiri, Bank Niaga, bank BTN, Bank Mega ,Bank  BRI, Bank BUKPIN, BPD Jabar dan BPD Aceh dll.

Pengesahan beberapa produk perundanangan yang meberikan kepastian hukum dan meningkatkan aktivitas pasar keuangan syariah, seperti: (i) UU No.21 tahun 2008 tenteng Perbank Syariah; (ii) UU No. 19 tahun 2008 tentang surat berharga syariah negera (sukuk); dan (iii) UU no 42 tahun 2009 tentang Amandemen ketiga UU no 8 tahun 1983 tentang PPN Barang dan Jasa.

Dengan telah diberlakukannya Undang-Undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang diterbitka pada tanggal 16 Juli 2008, maka pengembangkan industri perbankan syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan akan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat lagi.

Dengan proses perkembangannya yang impresif, yang mencapai rata-rata pertumbuhan aset lebih dari 65% pertahun dalam 5 tahun terakhir, maka diharapkan peran industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan semakin signifikan.

Lahirnya UU Perbankan Syariah mendorong peningkatan jumlah BUS dari sebelumnya sebanyak 5 BUS menjadi 11 BUS dalam kurun waktu kurang dari dua tahun (2009-2010). Sejak mulai dikembangkannyasisten perbankan syariah di Indonesia, dalam dua dekade pengembangan keuangan syariah nasional, sudah banyak pencapaisn kemajuan, baik dari aspek kelembagaan dan infrastruktur penunjang, perangkat reguler dan sistem pengawasan, maupun awareness dan lierasi masyarakat terhadap layanan jasa keungan syariah.

Prinsip Prinsip Bank Syariah

            Ada pun beberapa prinsip bank syariah yang dianut berdasarkan hukum islam, diantaranya:

a. Mudharabah

  Yaitu suatu bentuk kerjasama usaha antara mudharib (pengelola dana) dengan  nisab bagi hasil antara keduanya yang telah ditetapkan berdasarkan kesepakatan awal. Biasanya jika terjadi kesalahan atau kebangkrutan perusahaan, seluruh kerugian akan ditetapkan kepada pemilik usaha.

b. Musyarakah

 Yaitu akda atau kerjasama antara dua orang atau lebih untuk melakukan suatu usaha secara produktif dan halal, dengan perjanjian jika semua keuntungan akan ditanggung bersama, begitupun jika nantinya terjadi kerugian, maka resiko akan ditnggung bersama menurut porsi kerja masing-masing.

c. Wadiah

 Yaitu suatu bentuk titipan murni dari satu pihak ke pihak lainnya, baiki individu maupun badan hukum yang harus dijaka dan dikembalikan kepada pihak penitip kapanpun ia menginginkannya.

d. Al Murabahah

 Yaitu suatu proses jual beli yang ditambagkan dengan sejumlah keuntungan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, yakni pembeli dan penjual. Prisip murabahah memperbolehkan penyerahan barang dilakukan pada saat transaksi sementara pembayaaran secara tunai, tanggungan, maupun dicicil.

e. Salam

Yaitu bentuk transaksi jual beli barang tertentu antara pihak penjual dan pembeli yang harga jualnya terdiri dari harga pokok barang, serta keuntungan yang telah ditentukan dan di sepakati bersama. Pada prinsip ini pembayaran dilakukan dimuka dan penyerahab barang dilakukan kemudian hari.

f. Istishna

yaitu sautu transaksi jual beli sepertii pada prinsip Salam, yakni penyerahan barang dilakukan hari, namun hal yang membedakan  adalah pembayaran boleh dilakukan dengan sisten cicilan.

g. Ijarah

yaitu akad pemindah hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang tersebut.

h. Qardh

Yaitu suatu perjanjian pinjam meminjam berbentuk uang ataupun barang. Prinsip ini dilakukan tanpa adanya orientasi keuntungan, namun pihak bank sebagai penberi pinjaman boleh meminta ganti biaya yang nantinya diperlukan selama kerjasama berlangsung. Jenis pijam meminjam yang menggunakan prinsip qordh yaitu pinjam talangan haji,pinjaman tunai, pinjaman kepada pengusaha kecil, dan pinjamn kepada pengurus bank.

i. Rahn / Gadai

yaitu kegiatan kerjasams antara pihak bank dan peminjam, dimana pihak bank akan meminta suatu harta pemilik atau pinjaman untuk digunakan sebagai jaminan atas pinjaman yang diterima. Ketika pinjaman telah dikembalikan secara lunas, pihak bank akan mengembalikan barang jaminan kepada peminjam.

j. Hawalah

yaitu suatu pengalihab utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggumgnya.prinsip ini dilakukan untuk membantu supplier  mendapatkan bantuan tunai supaya dapat melanjutkan produksinya. Dan pihak bank akan tetap mendapatkan biayaganti atas jasaa pemindahsn.

k. Wakalah

yaitu transaksi yang timbul akibat salah satu pihak memberikan suatu objek perikatan yang berbentuk jasa. Wakalah adalah penyerahhan,pendelegasi, atau bisa dikatakan pemberian mandat. Transaksai wakalah dapat dijumpai pada transaksi perbankan pada umumnya seperti penagihan, pembayaran, agensi, dan transaksi lain.

Perbedaan Bank Syariah dengan Bank Konvensional

 Ada juga perbedaan antara Bank Syariah dan Bank Konvensional yaitu:

a. Perbedaan Hukum yang Digunakan

Pada Bank Syariah, semua akad atau transaksi harus sesuai dengan prinsip syariah Islam, berdasarkan Al-Quran dan Hadist yang telah difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hukum yang diberlakukan pada bank Syariah diantaranya;

  • Akad al-mudharabah (bagi hasil)
  • Al-musyarakah (perkongsian)
  • Al-musaqat (kerja sama tani)
  • Al-ba’i (bagi hasil)
  • Al-ijarah (sewa-menyewa)
  • Al-wakalah (keagenan).

Sedangkan pada Bank Konvensional, semua transaksi dan perjanjian dibuat dengan hanya berdasarkan hukum-hukum positif yang berlaku di Indonesia. Hukum yang digunakan adalah Hukum Perdata dan Hukum Pidana.

b. Perbedaan dari Sisi Investasi

Pada Bank Syariah, seseorang bisa meminjam dana usaha dari Bank apabila jenis usaha yang dijalankannya halal dari sudut pandang Islam. Beberapa usaha yang dilakukan diantaranya, perdagangan, peternakan, pertanian, dan lain sebagainya.

Sedangkan pada Bank Konvensional, seseorang diperbolehkan meminjam dana dari bank untuk jenis usaha yang diijinkan atas hukum positif yang berlaku di negara Indonesia. Usaha yang dianggap tidak halal tapi bila diakui berbadan hukum positif di Indonesia tetap bisa meminjam dana dari Bank Konvensional.

c. Perbedaan dari Sisi Orientasi

Bank Syariah berorientasi pada profit, kemakmuran, dan kebahagiaan dunia hingga akhirat. Sedangkan Bank Konvensional sendiri lebih cenderung mengutamakan untuk mendapatkan keuntungan atau profit oriented.

d. Perbedaan Dalam Pembagian Keuntungan

Bank Syariah menerapkan sistem pembagian keuntungan sesuai dengan akad yang telah disepakati sejak awal oleh kedua belah pihak konsumen. Tentu saja Bank Syariah menganilas kemungkinan untung dan rugi dari usaha yang akan diberikan pembiayaan oleh pengajuan custmer.

ika usaha tersebut dianggap tidak menguntungkan maka Bank Syariah akan menolak pengajuan pinjaman nasabah. Pada Bank Konvesnional menerapkan sistem bunga tetap atau bungan mengambang pada semua pinjaman kepada nasabahnya. Dengan kata lain, pihak Bank Konvensional menganggap bahwa usaha yang akan diberikan pinjaman dana akan selalu untung.

Lebih jelasnya, lihat tabel berikut ini:

No. Bank Syariah (Bagi Hasil) Bank Konvensional (Bunga)
1. Penentuan bagi hasil dilakukan pada saat awal perjanjian dan berdasarkan pada untung/ rugi Penentuan besar bunga dibuat sewaktu perjanjian tanpa mempertimbangkan untung dan rugi
2. Jumlah nisbah bagi hasil berdasarkan jumlah keuntungan akhir yang dicapai Besar persentase bunga berdasarkan jumlah uang
3. Besarnya bagi hasil tergantung hasil usaha. Jika usaha merugi, maka kerugian ditanggung kedua belah pihak Pembayaran bunga berdasarkan perjanjian tanpa melihat apakah proyek yang dilaksanakan pihak kedua untung atau rugi.
4. Besar bagi hasil berdasarkan besar keuntungan yang didapatkan Pembayaran bunga tidak meningkat walaupun jumlah keuntungan jauh lebih besar.
5. Penerimaan/ pembagian keuntungan adalah halal menurut syariat islam Pengambilan/pembayaran bunga adalah halal

e. Hubungan Nasabah dengan Pihak Bank

Bank Syariah memperlakukan nasabah mereka layaknya mitra dengan ikatan perjanjian yang transparan. Menjadi alasan mengapa banyak nasabah Bank Syariah yang mengaku punya hubungan emosional dengan pihak bank pemberi fasilitas pembiayaan.

Berbeda halnya dengan Bank Konvensional yang memperlakukan hubungan konsumen mereka dengan nasabah sebagai kreditur dan debitur. Jika pembayaran kredit oleh debitur lancar, maka pihak bank juga akan memberikan keterangan lancar. Namun, jika pembayaran pinjaman macet maka pihak bank akan menagih, bahkan bisa berujung pada penyitaan aset yang diagunkan.

f. Perbedaan dari Sisi Pengawasan

Pada Bank Syariah, semua transaksi berada dalam pengawasan Dewan Pengawas yang diantaranya terdiri dari beberapa Ulama dan Ahli Ekonomi yang mengerti tentang fiqih muamalah. Sedangkan pada Bank Konvensional tidak ada Dewan Pengawas. Namun, setiap transaksi yang dilakukan pada Bank Konvensional harus berdasarkan hukum-hukum positif yang berlaku di Indonesia

 g. Perbedaan Dalam hal Cicilan dan Promosi

Bank Syariah menerapkan sisitem cicilan dengan besaran tetap berdasarkan keuntungan bank yang sudah disepakati kedua belah pihak. Selain itu, isi dari promosi Bank Syariah harus disampaikan dengan jelas dan transparan sehingga tidak ada yang ditutup-tutupi.

Misalnya promo wisata dari perusahaan Bank Syariah untuk nasabah pengguna kartu kredit syariah. Di dalam promosi dijelaskan mengenai biaya yang harus dan tidak harus diabayarkan oleh nasabah kartu kredit. Berbeda dengan Bank Konvensional yang punya banyak program promosi yang tujuannya hanya untuk memikat nasabah mereka. Misalnya promosi suku bunga tetap atau fixed rate selama periode tertentu, sampai pada akhirnya memberlakukan suku bunga berfluktuasi atau floating rate kepada nasabah.

ronisafaat Seorang penulis blog, professional photographer dan bussines co-founder. Berkeinginan untuk menjadi bagian dari perkembangan manusia untuk manusia. Keep connected..!!

Call Center BNI

ronisafaat
2 min read

Cara Daftar KlikBCA

ronisafaat
3 min read

Teknik Pengumpulan Data

ronisafaat
2 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *